Senin, 19 Agustus 2013

Murai Batu Balak-4 Aceh (KOPASSUS).., saat ini sedang dalam dorong ekor ., ekor awal 18cm., tapi kayaknya gak bakal bisa panjang lagi.., abiz  kayak di rumah sakit jiwa berisik sendiri tiap hari...xixixiixix.....

mudah-mudahan akhir bulan ini sudah kelar dorong ekor nya., kalau tidak ada halangan satu bulan kedepan udah bisa masuk arena pertandingan., (udah gak sabar liat nagen mainya)....xixixixi
do'ain yaaa rekan-rekan semoga nantinya bisa membanggakan tuanya ini.....

Senin, 11 Februari 2013



Pemanasan BT. Balak 4. pagi hari...............






mencoba merawat trotol murai Black Tail Balak 4..... masih dorong ekor bunyi masih semaunya..., cuma bergaya aja...tapi yang penting asyik..
PECONG (MB Kota Agung) walau bulu udah gak layak pakai tapi masih aja membuat gaduh rumah...hehehe
CILO pemanasan pagi hari setelah selesai masa mabung nya.....

Selasa, 05 Februari 2013

--------KUNCI UTAMA PERAWATAN BURUNG --------


Persoalan yang paling banyak dimunculkan dalam berbagai forum burung adalah bagaimana membuat burung yang tidak bunyi menjadi bunyi; bunyi jelek menjadi bagus; bunyi bagus tetap konsisten bagus. Hal ini sangat wajar karena tujuan utama yang dikejar para kicaumania dalam memelihara burung adalah bagaimana burung mereka bisa bunyi bagus.
Ya, namanya saja “kicau (burung) mania” dan bukan “gaya (burung) mania” dan bukan pula “tarian (burung) mania”. Meskipun masalah penampilan juga sangat penting, khususnya untuk burung2 lomba, tetapi dalam hal ini saya lebih banyak berbicara dalam hal kicauan dulu. Lagi pula, kebanyakan gaya burung dalam bertarung relatif tetap dan relatif tidak bisa di-treatment untuk diubah.
Kicauan burung sangat berkaitan dengan kesehatan sebagai variabel independen (yang mempengaruhi). Kesehatan ini ada dua; fisik dan mental, yang keduanya tidak bisa dipisahkan sama sekali. Sesehat apapun kondisi fisik burung, kalau terganggu kondisi mentalnya, maka kesehatan fisik langsung terganggu dan tidak akan pernah mau bunyi, apalagi bunyi bagus. Begitu juga kalau mentalnya bagus, maka ketika kondisi fisiknya terganggu, misalnya nglabrak2 dan pangkal paruhnya berdarah, maka akan menyebabkan burung tidak bisa tampil maksimal.
1. Kesehatan fisik akan tercapai bila burung tercukupi dalam hal pakan (4 sehat, 5 sempurna), air dan sinar matahari.
2. Kesehatan mental akan tercapai bila burung berada dalam kondisi “senang” dan tidak tertekan.
Berkaitan dengan terpenuhinya 4 sehat 5 sempurna, maka pentinglah bagi burung untuk selalu disuplai makanan tambahan.
- Untuk burung dengan pakan utama serangga (MB, jenis2 kacer, dll) perlu diberi tambahan vitamin secara rutin dan terukur. Untuk jenis burung ini yang terbiasa diberi voor, bisa dipertimbangkan perlu tidaknya pemberian vitamin. Kalau dalam kemasan voor sudah tertulis bahwa voor tsb kaya akan kandungan vitamin, mungkin tidak perlu ada tambahan suplemen. Untuk burung2 yang tidak diberi voor (karena dikhawatirkan akan menurunkan kualitas suara) mutlak harus ditambah suplemen (khususnya vitamin).
- Untuk burung dengan pakan utama berupa buah (jenis cucak misalnya), perlu diberi serangga secara teratur dan terukur.
- Untuk burung pemakan biji, perlu sering diberi serangga dan buah/sayuran. Kenari dan branjangan misalnya, perlu ada kroto dalam menu makanannya.
Berkaitan dengan terpenuhinya sinar matahari (untuk pengubahan pro vitamin D menjadi vit D; mematikan jamur dan juga kutu), maka itulah perlunya penjemuran. Untuk sekadar alasan kesehatan (bukan treatment agar “ganas” dsb), penjemuran rutin cukup 30 – 60 menit di pagi hari.

Konsistensi
Lebih penting dari semua hal di atas adalah masalah konsistensi dalam pemberian, baik dalam hal jadwal maupun takaran.
Pemberian pakan dengan jadwal yang tidak teratur, kadang diganti pagi, kadang sore; atau jumlah yang tidak teratur, kadang sesendok kadang tiga sendok, atau jenis pakan (misalnya voer) yang berganti-ganti, kadang merk A kadang merk B, membuat burung tidak stabil.
Berkaitan dengan masalah konsistensi inilah maka perlu kiranya bagi para kicaumania untuk menetapkan jenis, jadwal dan jumlah pakan bagi burung mereka yang dilaksanakan secara konsisten.
Misalnya Anda sudah menetapkan pola makan: pagi jangkrik 4 ekor, siang kroto sesendok, sore jangkrik 5 ekor plus cacing 2 ekor, maka konsisten saja itu dilakukan.
Demikian pula halnya dalam hal memandikan dan menjemur. Harus konsisten. Kalau burung Anda biasa dimandikan pagi, ya pagi terus. Kalau sore, ya sore terus. Kalau pagi-sore, ya pagi-sore terus. Kalau seminggu hanya sekali pada hari Minggu, ya seminggu sekali saja pada haru Minggu. Bukan menjadi seminggu dua kali hanya karena kebetulan pada pekan itu ada libur selain hari Minggu.
Kalau memang perlu ada perubahan maka hendaknya perubahan tidak dilakukan secara drastis dan konsisten menerapkan pola baru tersebut. Adakan perubahan secara bertahap. Untuk ganti merk pakan misalnya, maka campurkan saja pakan yang biasanya dengan pakan yang baru. Hari berikutnya, merk tertentu yang hendak dihilangkan, dikurangi porsinya sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya hanya voer pengganti yang kita sodorkan.
Tips dan trik menjaga kesehatan fisik:
1. Jangan pernah iseng memberi pakan burung tidak pada jadwal waktunya (misalnya ada jangkrik lepas, ya masukkan kandang jangkrik, jangan iseng diberikan ke burung yang ada di dekat Anda).
2. Jangan iseng memandikan burung tidak pada waktunya (misalnya biasanya sepekan dua kali, menjadi setiap hari selama sepekan karena kebetulan pekan itu Anda libur atau cuti).
3. Jangan iseng menjemur burung lebih lama dari biasanya untuk sesekali waktu, misalnya hanya karena Anda kebetulan sempat menunggui berlama-lama.
4. Jangan iseng meniru-niru pola pakan dari kawan, jika Anda tidak yakin bisa konsisten untuk melaksanakannya.
5. Jangan sampai kehabisan voor merk tertentu yang biasa Anda berikan ke burung Anda. Jangan terlalu yakin bahwa merk tertentu itu selalu tersedia di kios pakan burung langganan Anda (kecuali Anda mau repot muter2 ke kios lain).
6. Tips (paling gampang dilaksanakan): Konsisten merawat burung secara tidak konsisten…(dengan risiko ditanggung sendiri…., hehehehe).

Tips dan trik menjaga kesehatan mental burung:
1. Biasakan diubah2 tempat gantungannya di tempat2 yang relatif ramai orang, gaduh, berisik.
2. Jangan diubah2 posisi tempat pakannya.
3. Jangan diubah2 bentuk dan ukuran tempat tenggeran/tangkringannya.
4. Biasakan burung dengan kerodong, topi, payung dan lain-lain, dengan warna yang beragam.
5. Biasakan dipertemukan dengan burung lain (baik sejenis maupun lain jenis). Catatan: Jangan lama2, kalau Anda belum yakin dengan kondisi mental si burung.
6. Biasakan dibawa bepergian (entah pakai mobil ataupun motor) entah untuk tujuan lomba, latber, atau sekadar muter2 kota. Misalnya Anda main ke rumah kawan dan tidak merasa repot, bawa saja burung Anda meskipun di sana hanya digantung sendirian, sementara Anda ngobrol.
7. Milikilah burung sejenis sebagai sparring partner atau “unthul” (bahasa Jawa, bahasa Indoensia-nya apa saya tidak bisa memilih kata yang pas) dengan kualitas mental yang jeblok, untuk selalu “dilabrak” oleh burung andalan kita. Ini seperti kalau kita punya ayam bangkok petarung, maka kita perlu ayam jago lainnya (biasanya ayam lokal) yang kualitas tarungnya jelek dengan tugas “menerima pukulan” bangkok jagoan kita. Ini bertujuan meningkatkan mental burung dengan cara memberi perasaan bahwa dia adalah burung “menangan” (padahal musuhnya-lah yang jelek, hehehe bo’ongi saja biar dia pede).

Catatan A:
Burung-burung yang sangat sensitif terhadap perubahan pakan, perawatan dan lingkungan:
1. Jenis kacer/anis (AM, AK, kacer)
2. Jenis cucak (terutama CR dan CI/CH).
Catatan B:
Untuk konsistensi bisa diabaikan ketika Anda men-treatment burung dalam proses ngurak/ bodol/ mabung karena untuk burung2 tertentu kadang diperlukan treatment khusus yang sama sekali berbeda (saya pernah menulis tentang ini. Coba lihat threat tentang AM).

Burung perlu medical/behavior record
Berkaitan dengan masalah konsistensi ini, perlu kiranya setiap burung memiliki medical/behavior record. Tentu ini sekadar catatan kesehatan dan perilaku yang kita tulis secara sederhana. Dalam record itu antara lain terdapat catatan tentang pola makan, pola mandi/jemur, design/pola kandang dan tangkringannya. Record itu kalau bisa ditempel di tempat yang terlihat sehingga siapa saja yang merawat burung itu akan menanganinya dengan pola yang sama. Kalau Anda punya satu dua burung, mungkin tidak bingung ketika Anda pergi dan meninggalkan burung pada perawat khusus/orang lain. Coba saja Anda punya burung lebih dari 10, maka konsistensi perawatan akan kurang terjamin, apa lagi kalau Anda mau mengoperkan perawatan kepada orang lain.
Inilah sesungguhnya yang terjadi, mengapa selama ini banyak orang yang kecewa karena burung yang mereka beli tidak sebagus ketika masih ada di tangan pemilik sebelumnya, misalnya. Jadi kalau Anda beli burung bagus, tanyakan secara detil bagaimana perawatannya, bukan sekadar pada pola pakan, tetapi juga pada pola mandi/jemur, pola sangkar dan detail dalamnya, serta kebiasaan2 lain yang membuat burung dalam kondisi happy (trauma pada benda2 tertentu, bisa membuat burung macet bunyi ketika melihat benda2 sejenis).
Di dalam record itu, juga perlu ada catatan tentang pola perawatan insidentil. Misalnya saja, ada catatan detail pola perawatan ketika mau turun lomba/latber, sebab banyak yang memberikan pola makan berbeda ketika dalam kondisi biasa dan kondisi akan dilombakan/dilatberkan. Bisa saja ketika mau ditandingkan, biasa ditambah porsi pakan A-nya dan dikurangi porsi pakan B-nya, atau malah diberi pakan C yang tidak pernah diberikan secara harian, dan sebagainya.
Sebagai penutup tulisan ini, saya berikan catatan dalam huruf kapital: SEKECIL APAPUN PERUBAHAN DALAM POLA PERAWATAN AKAN BERPENGARUH, BAIK POSITIF ATAUPUN NEGATIF, PADA KONDISI KESEHATAN (FISIK DAN/ATAU MENTAL) BURUNG.

Sekian dan semoga bermanfaat.
Weekend To Teluk Kiluan Lampung Selatan..................

















Senin, 04 Februari 2013








Koleksi Pribadi (CILO usia dewasa)....
Koleksi Pribadi (CILO umur 05 bulan)...






Siri-siri merupakan salah satu burung master yang sering digunakan untuk isian murai batu, kacer, cucak hijau, pentet, lovebird, dan aneka burung kicauan lainnya. Beberapa sobat kicaumania sering kecewa ketika membeli burung siri-siri, karena kualitas suaranya tidak sebagus yang dibayangkan. Sebenarnya bukan soal kualitas suaranya, tetapi mereka sering dikibuli pedagang (terutama di pasar burung) yang mengaku menjual siri-siri, padahal yang sebenarnya adalah cucak rawis. Lho, beda to? Memang banyak informasi yang simpang-siur, salah-kaprah, dan tumpang-tindih mengenai burung siri-siri di berbagai forum burung berkicau seperti di kicaumania.or.id, kaskus.or.id, dan sejenisnya. Bukan salah websitenya, karena mereka sekadar menyediakan threat yang bebas untuk siapa saja. Bukan salah para kicaumania, karena mereka juga sedang berusaha mencari kebenaran, atau sama-sama saling belajar. Beberapa kicaumania berpendapat, yang baik dijadikan master adalah siri-siri yang posturnya besar. Sedangkan siri-siri yang posturnya kecil tidak terlalu bagus suaranya.
Sebenarnya yang dimaksud sobat-sobat kicaumania sebagai siri-siri berpostur besar adalah burung siri-siri itu sendiri, atau dalam literatur perburungan internasional disebut streaked bulbul, dengan nama spesies Ixos malaccensis. Panjang tubuhnya sekitar 22 cm. Beberapa ahli burung terkadang menyebut spesies ini dengan nama Hypsipetes malaccensis. Burung inilah yang dijadikan master bagi murai batu Aladin dan Ade Ray milik Om Khadafi (Aceh Bintang SF). Adapun yang dimaksud dengan siri-siri berpostur lebih kecil sebenarnya merupakan spesies berbeda, tetapi masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat, yaitu cucak rawis, atau nama resmi dalam bahasa Indonesia adalah brinji gunung. Panjang tubuhnya sekitar 20 cm. Dalam literatur perburungan internasional, cucak rawis disebut sunda bulbul, sunda-streaked bulbul, sumatran bulbul, atau javan bulbul, dengan nama spesies Ixos virescens. Sama seperti siri-siri, spesies ini juga memiliki sinomim yaitu Hypsipetes virescens. Jika siri-siri tidak memiliki subspesies, maka cucak rawis atau brinji gunung memiliki dua subspecies, yaitu: 1. Ixos virescens sumatranus (R. G. W. Ramsay, 1882): hanya dijumpai di Sumatera Barat, terutama di sepanjang Bukit Barisan. Disebut juga sebagai cucak rawis ras sumatera. 2. Ixos virescens virescens (Temminck, 1825): mendiami hutan-hutan di pegunungan Jawa, antara lain di Merapi. Disebut juga cucak rawis ras jawa. Secara umum, cucak rawis ras jawa memiliki warna lebih kehijauan daripada ras sumatera. Namun penampilan fisik lainnya hampir sama. Saya pribadi tidak sependapat dengan anggapan bahwa kualitas suara burung cucak rawis tidak bagus. Kalau secara genetik memang lebih bagus suara burung siri-siri, tetapi cucak rawis jika dirawat dengan baik juga bisa dijadikan master yang bagus untuk kacer, cucak hijau, dan sebagainya. — Kebingungan sobat kicaumania terutama antara burung siri-siri dan cucak rawis ras sumatera. Sebab habitat burung siri-siri juga di Sumatera (termasuk Sumatera Barat), Kepulauan Riau, Lingga, dan Bangka. Namun, berbeda dari cucak rawis yang hanya dijumpai di Jawa dan Sumatera Barat, siri-siri bahkan dapat dijumpai pula di Kalimantan, Semenanjung Malaysia, wilayah selatan Thailand, dan wilayah selatan Myanmar. Pada umumnya, anggota keluarga cucak-cucakan memang mempunyai perbedaan yang sangat tipis antara spesies yang satu dan spesies yang lain. Hal inilah yang sering menimbulkan kerancuan, atau lebih tepatnya salah tafsir mengenai spesies tertentu, seperti antara cucak rawis dan siri-siri. Untuk memudahkan bagaimana membedakan burung siri-siri dan cucak rawis, berikut ini tabel perbedaan di antara kedua spesies tersebut :

Kamis, 31 Januari 2013

Memprediksi jenis kelamin burung menggunakan cincin emas

Masih ragu dengan jenis kelamin burung Anda? Untuk burung-burung dimorfik, seperti murai batu, kacer, serindit, dan sejenisnya, jenis kelamin relatif mudah dibedakan berdasarkan perbedaan penampilan fisik di beberapa bagian tubuhnya. Tetapi tidak demikian dengan burung-burung monomorfik seperti lovebird, kenari, atau gelatik, karena penampilan fisik jantan dan betina hampir sama. Bahkan burung dimorfik ketika masih anakan hingga muda pun sulit dibedakan. Nah, berikut ini ada cara jitu untuk memprediksi jenis kelamin burung, baik pada burung muda maupun burung dewasa, menggunakan media cincin emas. Coba pinjam cincin emas milik istri Anda (tetapi jangan dijual dan uangnya untuk beli burung jantan ya…) . Cincin ini yang akan kita gunakan untuk memprediksi jenis kelamin burung Anda. Cara sexing seperti ini biasa disebut sebagai metode pendulum, dan banyak dilakukan oleh para penggemar burung di berbagai belahan dunia, mulai dari Eropa, Asia, Amerika, Afrika, hingga Australia.
CINCIN EMAS DAN BENANG UNTUK SEXING BURUNG CINCIN EMAS DAN BENANG UNTUK SEXING BURUNG Bahkan di beberapa negara Eropa, perangkat pendulum untuk mengetes jenis kelamin burung ini banyak diperjualbelikan. Penggemar burung di Indonesia juga pernah mengenal perangkat pendulum untuk keperluan sexing burung, namun tidak terbuat dari emas, dan banyak memunculkan komplain dari pembeli akibat tingkat akurasinya sangat rendah. Tingkat akurasi dari metode pendulum cincin emas ini bisa mencapai 90%, sehingga banyak digunakan para penangkar. Di Indonesia, sejauh ini, metode tersebut mulai banyak digunakan para penangkar perkutut. Bagaimana cara kita memprediksi jenis kelamin burung dengan cincin emas ? Sebenarnya media yang busa digunakan tidak terbatas pada cincin emas, tetapi bisa juga menggunakan media lain seperti jarum yang berukuran besar. Namun karena agak sulit mencarinya, ya lebih baik meminjam cincin milik istri dulu, he..he..he.. Berikut ini cara membuat pendulum cincin emas untuk memprediksi jenis kelamin burung : Siapkan tali dengan panjang 15 – 20 cm, kemudian ikatkan bagian ujungnya pada cincin. Pegang burung dengan tangan kiri. Untuk hasil yang lebih akurat, usahakan sebagian badan dan kepalanya berada jauh dari genggaman. Julurkan cincin pelan-pelan, agar berada tepat di atas kepala burung, dengan jarak antara cincin dan kepala burung sekitar 3-5 cm. Perhatikan gerakan yang terjadi pada pendulum tersebut, lalu prediksikan jenis kelamin berdasarkan gerakan tersebut : –> Gerakan cincin yang satu arah (bergerak maju dan mundur) menandakan burung jantan. –> Gerakan cincin yang memutar menandakan burung betina. Untuk lebih jelas silahkan lihat gambar dibawah ini: MEMPREDIKSI JENIS KELAMIN BURUNG DENGAN METODE CINCIN PENDULUM
MEMPREDIKSI JENIS KELAMIN BURUNG DENGAN METODE CINCIN PENDULUM Demikian informasi singkat mengenai bagaimana memprediksi burung jantan atau betina dengan cara menggunakan pendulum cincin emas. Namun perlu diingat, ini hanyalah prediksi. Untuk memastikan akurasinya, perlu dicoba beberapa kali (minimal 3 kali), lants silakan ambil kesimpulan sendiri apakah burung Anda jantan atau betina. Semoga bermanfaat. — Salam sukses, Salam dari Om Kicau.